https://myelaeis.com


Copyright © myelaeis.com
All Right Reserved.
By : Aditya

Berita > Korporasi

Awal Juni Rekomtek Terbit, Pertengahan Sudah Tanam Ulang

Awal Juni Rekomtek Terbit, Pertengahan Sudah Tanam Ulang

Seremoni tanam ulang di lahan PSR yang dikelola KUD Tani Makmur di Desa Bukit Mas. foto: ist.

Kami mengapresiasi tinggi PTPN IV PalmCo yang telah menjadi mitra off taker PSR bagi petani dan koperasi di Langkat."

DIREKTUR Perlindungan Perkebunan Kementerian Pertanian RI Ir. Hendratmojo Bagus Hudoro, M.Sc  menyampaikan apresiasinya atas kecepatan pelaksanaan tanam ulang pasca rekomtek bagi petani.

“Awal Juni rekomtek terbit, pertengahan sudah tanam ulang. Ini bukti komunikasi dan kolaborasi yang berlangsung antara petani, koperasi dan perusahaan kepada instansi terkait sudah efektif. Mudah-mudahan bisa terus seperti ini dan PSR semakin diperluas,” ucapnya.

Bagus mengatakan itu saat PTPN IV Palmco melaksanakan tanam ulang kebun sawit petani KUD Tani Makmur di Desa Bukit Mas, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara. 

Peremajaan sawit rakyat (PSR) seluas 107 Ha tersebut memecahkan rekor nasional dalam hal proses tumbang dan tanam tercepat pasca rekomendasi teknis (rekomtek) serta pencairan dana Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

Lebih jauh, menurut Bagus, dengan sawit yang di tahun 2023 memberikan Rp 600 triliun devisa atau menyumbang 60% dari devisa nasional, maka peningkatan produktivitas sawit rakyat yang komposisinya sangat besar dari sisi luasan sawit Indonesia, akan membawa kemajuan bagi industri sawit nasional.

Sementara itu, Pj Gubernur Sumatera Utara Hassanudin memberikan apresiasi tinggi kepada PTPN yang terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung sawit rakyat. Dia berharap Sumatera Utara yang memiliki 1,4 juta Ha perkebunan sawit di mana 441 ribu Ha merupakan sawit rakyat menghadapi beragam masalah mulai dari penggunaan bibit ilegitim hingga usia tanaman yang sudah tua.

“Kami mengapresiasi tinggi PTPN IV PalmCo yang telah menjadi mitra off taker PSR bagi petani dan koperasi di Langkat, harapannya inisiatif serupa  dapat digesa di kebun-kebun rakyat lainnya,” tutupnya.

Sebelumnya Dirut PTPN IV Jatmiko Santosa di depan ratusan petani dan Forkopimda Langkat, Rabu (19/06), mengatakan pihaknya telah melaksanakan tanam ulang kebun sawit rakyat milik petani. 

"Ini sepertinya juga menjadi rekor pengerjaan tanam ulang tercepat setelah rekomtek Kementerian Pertanian diterbitkan,” ujar Jatmiko Santosa.

Menurutnya, terhitung kurang dari satu pekan pasca rekomtek terbit, perusahaan mampu mendorong percepatan penandatanganan perjanjian tiga pihak antara Koperasi, BPDPKS dan Lembaga Pembiayaan.

“Tidak hanya cepat, tapi kita juga ingin keberhasilan pola kemitraan antara PTPN dengan petani plasma yang sudah terbukti berhasil di Riau, dapat juga diperluas melalui pola off taker kepada para petani non plasma seperti di Besitang ini,” urainya.

PTPN memang telah memulai pola kemitraan yang kemudian menjadi best role model di Indonesia. Sejak tahun 2019, melalui Regional III (PTPN V saat itu) di Riau, Perusahaan perkebunan negara ini meluncurkan 4 program, salah satunya program kemitraan single management, di mana mulai dari peremajaan hingga tanaman sawit itu memasuki usia panennya, seluruh pengelolaan kebun sawit rakyat tersebut dikelola langsung oleh PTPN. Tidak hanya itu, para petani yang bermitra juga mendapatkan fasilitas pemetaan geospatial sampai juga diikutkan dalam sertifikasi keberlanjutan seperti Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO).

“Pada Petani mitra binaan kita di Riau yang menggunakan pola single management, untuk Tanaman Menghasilkan (TM) Tahun Pertamanya sudah mampu di atas standar nasional, mencapai 18 ton TBS/Ha/tahun,” sebut Jatmiko. Dengan capaian produksi tersebut petani mitra mampu memperoleh pendapatan tinggi setiap bulannya berkisar 5 sampai 7 jutaan rupiah. Bahkan koperasinya bisa memiliki saldo hingga belasan miliar dan mampu melakukan pelunasan dipercepat atas pembiayaan pembangunan kebun.

Dengan pencapaian tadi, Jatmiko berkeinginan keberhasilan petani plasma binaan PTPN juga dapat ditularkan kepada petani sawit non plasma. Melalui pola off taker yang ditawarkan, perusahaan tidak hanya menjadi penampung produksi kebun sawit rakyat, namun lebih jauh lagi, turut memberikan pendampingan dalam kultur teknis dan pembinaan berkelanjutan sebagaimana yang diterima oleh petani plasma yang bermitra dengan PTPN.

“Harapannya tidak hanya dengan pola single management. Ke depan dengan peningkatan dana hibah PSR dari BPDPKS yang mencapai Rp 60 juta, KUD-KUD yang mampu melaksanakan peremajaan sendiri dapat memanfaatkan pola Off Taker aktif ini sehingga harapan kita semua agar PSR dapat diperluas dan di akselerasi, sama-sama mampu kita wujudkan," katanya.

Mewakili pemegang saham, Direktur Pemasaran PTPN III (Persero) Dwi Sutoro menyampaikan komitmen perusahaan dalam upaya pengembangan korporatisasi Petani.

“Dengan kelembagaan yang ada seperti KUD ini, maka kita berharap korporatisasi petani yang bisa memberikan nilai tambah yang lebih, menjadi pondasi dalam kebersinambungan usaha perkebunan rakyat ke depannya,” katanya.

"Pembentukan sub holding PTPN IV PalmCo yang berfokus pada sawit seyogyanya mampu menjadi booster bagi PSR nasional yang selalu berada dibawah target pemerintah. PalmCo punya target membantu petani melaksanakan PSR seluas 60 ribu Ha hingga 2026 nanti,” tambahnya.

BACA BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS