https://myelaeis.com


Copyright © myelaeis.com
All Right Reserved.
By : Aditya

Berita > Ragam

Peneliti Sebut Produktifitas Sawit Rakyat Rendah, Hanya Segini per Hektar/Tahun

Peneliti Sebut Produktifitas Sawit Rakyat Rendah, Hanya Segini per Hektar/Tahun

Ilustrasi kebun sawit rakyat. Foto: merdeka.com

"Termasuk dalam hal penggunaan pupuk  yang masih kurang sesuai kebutuhan."

SUKARMAN, Peneliti Ahli Utama dari Pusat Riset Tanaman Perkebunan (PRTP) Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengatakan salah satu permasalahan perkebunan sawit rakyat adalah tingkat produktivitasnya yang rendah.

Dijelaskan Sukarman, seperti dikutip, Selasa (9/7), secara nasional, rata-rata produktivitas sawit rakyat hanya mencapai 3,44 ton per  hektar (Ha) per tahun.

Sedangkan produktivitas perkebunan kelapa sawit dari PBS dan PBN, sambung Sukarman, masing - masing mencapai 4,04 ton per Ha per tahun, dan 4,23 ton per Ha per tahun.

“Rendahnya produktivitas perkebunan kelapa sawit milik rakyat disebabkan karena tanaman sudah berumur tua dan banyak yang rusak atau tak terawst dengan baik," ungkapnya.

Selain itu, kata dia, petani sawit banyak yang menggunakan benih bukan unggul dan tidak bersertifikat, serta kurang banyak melakukan pengelolaan kebun.

"Termasuk dalam hal penggunaan pupuk  yang masih kurang sesuai dengan kebutuhan, karena harga pupuk masih dianggap mahal,  sehingga produktivitasnya rendah,” tutur Sukarman.

Karena itu Sukarman menilai  diperlukan upaya peremajaan terhadap kebun kelapa sawit rakyat  yang tidak produktif seperti Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). 

Agar tidak terulang lagi rendahmua produktivitas sawit rakyat, Sukarman bilang perkebunan sawit peserta program PSR harus mendapatkan pupuk yang disubsidi.

"Serta, perlu pula untuk menambah kandungan kalium atau K yang lebih tinggi dalam pupuk majemuk NPK," saran Sukarman.

Alasannya, kata Sukarman, karena tanah-tanah yang dijadikan kebun sawit sebagian besar mengandung kalium yang rendah.

"Di lain pihak, agar tandan buah segar (TBS) sawit mampu menghasilkan rendemen yang bagus sehingga minyak sawit  mentah atau crude palm oil (CPO) yang diproduksi pun berkualitas tinggi, membutuhkan hara kalium yang tinggi," ujar Sukarman. 

Sebelumnya Setiari Marwanto selaku Kepala PRTP ORPP BRIN mengungkapkan, nilai ekspor CPO terakhir telah mencapai angka lebih dari angka Rp 460 triliun.

"Kontribusi sub sektor perkebunan terhadap perekonomian nasional terus meningkat dan memperkuat pembangunan perkebunan kelapa sawit secara menyeluruh," ujar Setiari Marwanto.

Namun demikian, ujarnya, Indonesia dihadapkan pada kondisi penurunan produktivitas maupun akhir siklus produksi kelapa sawit 25 tahunan untuk sebagian besar perkebunan kelapa sawit eksisting di Indonesia.  

"Hal ini memerlukan upaya khusus, termasuk dengan melaksanakan  program PSR yang telah diluncurkan pemerintah sejak tahun 2017 lalu.," tegas Setiari Marwanto selaku Kepala PRTP ORPP BRIN.

BACA BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS