Surabaya, myelaeis.com - Siapa sangka, dodol dari sari pati sawit bisa seenak ini! Teksturnya lembut, rasanya legit, bikin peserta workshop berebut resep rahasianya.
Aroma manis dodol, harum brownies, dan renyahnya kue bangkit menyambut setiap langkah yang masuk ke Grandpa Lee Authentic Cuisine Hotel Leedon, Surabaya. Tapi di balik wangi-wangian lezat itu, tersimpan cerita yang jauh lebih dalam, tentang semangat, harapan, dan perubahan hidup dari dapur sederhana.
Selama dua hari, 29–30 April 2025, ruangan hotel itu tak lagi sekadar tempat seminar. Ia menjelma menjadi dapur kolaboratif penuh gelak tawa, tumpahan tepung, dan gemuruh mixer. Acara bertajuk Pelatihan Produksi Bolu, Dodol, dan Kue Kering Berbahan Dasar Kelapa Sawit ini digagas oleh Elaeis Media Group bersama BPDPKS, didukung Indobake untuk peralatan baking.
Pesertanya beragam, pelaku usaha kuliner rumahan, mahasiswa, hingga ibu rumah tangga yang biasa berkutat dengan wajan dan kompor. Mereka datang dengan rasa ingin tahu, pulang dengan secercah harapan baru.
Salah satunya Aminatul Milla, yang mengira hanya demo masak atau masak biasa, “Tapi ternyata, dari sawit bisa dibuat selai, dodol, brownies… dan rasanya enak banget!” ujarnya sambil mencicipi hasil kreasinya.
Selama ini, sawit sering dianggap sebatas bahan minyak goreng atau biodiesel. Tapi siapa sangka, sari pati sawit yang diolah dari bagian dalam kelapa sawit, punya potensi luar biasa di dapur.
Hal ini dibuktikan langsung oleh Iin Arlina, pelaku UMKM dari Muaro Jambi yang hadir sebagai mentor. Ia membawa sendiri sari pati sawit dari daerah asalnya, dan mempraktikkan berbagai resep favoritnya.
“Sari pati sawit ini lembut dan legit. Bolu jadi lebih moist, dodol gampang pulen, dan rasanya khas banget,” jelas Bu Iin dengan semangat. Tak heran, banyak peserta yang terpikat dan langsung bertanya di mana bisa membeli bahan itu.
Bukan pelatihan yang penuh teori, di sini semua peserta terjun langsung ke dapur: mengayak tepung, mencampur adonan, dan bahkan mengaduk dodol besar yang lengket dan berat. Di titik ini, keakraban tumbuh. Para pria pun tak malu ikut mengaduk dodol, berkeringat bersama demi adonan yang sempurna.
“Saya biasanya bikin kue kering buat lebaran,” kata Mayasari, pelaku usaha kecil. “Tapi sekarang saya pengin coba bikin varian baru pakai sari pati sawit. Siapa tahu bisa jadi produk unggulan saya,” tambahnya.
Antusias serupa juga datang dari Pandu, mahasiswa yang awalnya hanya ikut-ikutan. “Awalnya saya kira sawit nggak bisa dimakan. Ternyata bisa jadi makanan seenak ini! Harusnya ini disebarkan lebih luas,” ujarnya takjub.
Melihat peluang menarik dari aneka olahan sawit ini, Kepala Divisi UKMK BPDPKS, Helmi Muhansyah, menekankan pentingnya hilirisasi sawit. “Dari satu bahan, UKMK bisa ciptakan produk berdaya saing yang layak ekspor,” katanya.
Sementara itu, Andrio Himawan dari Diskop UKM Jawa Timur berharap kegiatan seperti ini bisa membuat UMKM naik kelas. “Kita ingin sawit tak lagi hanya bahan ekspor mentah, tapi juga jadi komoditas kuliner khas Indonesia,” tegasnya.
Di penghujung pelatihan, peserta membuat kue bangkit sawit yang renyah di luar, meleleh di mulut. Lagu “Kemesraan” diputar, tawa meletup, tangan saling menggenggam. Dua hari terasa singkat, tapi meninggalkan jejak yang dalam.
Mereka pulang bukan hanya membawa resep. Mereka pulang membawa mimpi. Tentang dapur kecil yang bisa melahirkan produk besar. Tentang bahan sederhana yang bisa menjadi awal dari masa depan.
Dan siapa tahu, di sudut dapur itu nanti, aroma dodol sawit yang lembut akan menyatu dengan semangat yang tak lagi setengah-setengah.






