https://myelaeis.com


Copyright © myelaeis.com
All Right Reserved.
By : Aditya

Berita > Ragam

Soal Audit dan Pengukuran Ulang HGU di Aceh, Fadhli: Bukan Hal yang Baru

Soal Audit dan Pengukuran Ulang HGU di Aceh, Fadhli: Bukan Hal yang Baru

Ilustrasi perkebunan sawit di Aceh. Foto: Ist

Aceh, myelaeis.com - Desakan agar Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh melakukan audit dan pengukuran ulang terhadap seluruh Hak Guna Usaha (HGU) perusahaan kelapa sawit bukan hal yang baru.

Demikian dikatakan Wakil Sekjen Bidang Organisasi, Keanggotaan, Hukum dan Advokasi DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Fadhli Ali.

Namun, menurut Fadhli, banyak pihak menilai sudah saatnya pemerintah bertindak konkret. Salah satu langkah awal yang mendesak dilakukan adalah pengukuran ulang areal HGU untuk memastikan porsi lahan plasma benar-benar ada dan dimiliki oleh petani.

“Dengan luas HGU kelapa sawit di Aceh saat ini, bila setiap perusahaan melaksanakan kewajiban plasma sebagaimana diatur, maka seharusnya sudah ada lebih dari 70 ribu hektare lahan yang dimiliki oleh petani plasma,” ujarnya, Selasa (4/11).

Namun faktanya, hingga kini tidak ada data pasti mengenai luas lahan plasma di Aceh.

Bahkan, Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh disebut belum memiliki angka yang valid terkait hal tersebut. Kondisi ini menunjukkan lemahnya pengawasan dan penegakan aturan oleh instansi teknis.

“Distanbun Aceh lemah dalam menegakkan aturan dan kepatuhan perusahaan besar. Padahal, pemerintah seharusnya menunjukkan kewibawaan di hadapan korporasi, bukan sebaliknya,” lanjutnya.

Ia juga tak sepaham jika banyak perusahaan HGU menyengsarakan rakyat, tetapi banyak perusahaan belum memenuhi tanggung jawab dan kewajiban terhadap masyarakat, itu yang menurutnya benar adanya.

Karena itu, pihaknya ikut mendesak agar Pemerintah Aceh segera membentuk tim independen bersama lembaga terkait untuk melakukan audit dan pengukuran ulang HGU secara menyeluruh.

Langkah ini diharapkan menjadi pintu masuk menuju transparansi data, keadilan bagi petani, dan peningkatan pendapatan daerah dari sektor perkebunan.

“Ini bukan semata soal perusahaan, tapi soal keadilan dan keberpihakan pemerintah terhadap rakyatnya,” pungkasnya.***
 

BACA BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS