https://myelaeis.com


Copyright © myelaeis.com
All Right Reserved.
By : Aditya

Berita > Petani

Agar PSR Sukses, Perlu Dukungan Kelembagaan di Tingkat Bawah

Agar PSR Sukses, Perlu Dukungan Kelembagaan di Tingkat Bawah

Pemerhati petani sawit swadaya, Dermawan Harry Oetomo. Foto: Dok Elaeis

Jakarta, myelaeis.com - Sejak diluncurkan pemerintah pada tahun 2017 melalui Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) digadang-gadang menjadi salah satu langkah strategis dalam meningkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawit nasional, khususnya bagi petani sawit swadaya.

Namun, setelah hampir satu dekade berjalan, program ini dinilai perlu dievaluasi secara menyeluruh agar manfaatnya benar-benar optimal dan berkelanjutan.

Pemerhati petani sawit swadaya, Dermawan Harry Oetomo, menegaskan bahwa evaluasi dan analisa teknis terhadap pelaksanaan PSR sangat mendesak dilakukan. Menurutnya, perlu ada kejelasan dan kepastian visual terkait kecambah serta jenis bibit yang digunakan petani peserta PSR. Hal ini penting untuk memastikan kualitas tanaman dan produktivitas jangka panjang.

“Harus ada data realistis mengenai berapa produksi sawit per tahun dari setiap varian produsen kecambah yang beredar di Indonesia. Tanpa itu, kita sulit mengukur keberhasilan program secara objektif,” ujarnya kepada elaeis.co, Jumat (27/2).

Ia juga menyoroti minimnya after sales service dari produsen kecambah sawit. Padahal, aspek tersebut sangat fundamental karena berkaitan langsung dengan spesifikasi teknis, pemeliharaan tanaman, hingga potensi hasil panen.

Ketiadaan pendampingan berkelanjutan, pelatihan, dan pendidikan berkala bagi petani dinilai menjadi salah satu titik lemah dalam implementasi PSR.

Menurutnya peran asosiasi dan kelembagaan petani seperti Apkasindo misalnya, menjadi krusial dalam memastikan adanya perlindungan dan kepastian, baik secara administratif maupun teknis. Begitu pula dengan kelembagaan di tingkat bawah seperti kelompok tani (Poktan), gabungan kelompok tani (Gapoktan), serta koperasi atau KUD yang menjadi pengusul program PSR. Mereka harus mendapatkan pendampingan yang memadai agar mampu menjalankan program sesuai standar yang ditetapkan.

Menurut Dermawan, satu siklus kehidupan tanaman sawit dapat mencapai 25 hingga 30 tahun. Artinya, kesalahan dalam pemilihan bibit atau lemahnya pemahaman teknis di awal akan berdampak panjang terhadap produktivitas dan kesejahteraan petani.

Ia menekankan bahwa pelatihan dan pendidikan bagi petani sawit swadaya di sentra-sentra produksi harus menjadi agenda prioritas. Dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, produktivitas kebun dapat terdongkrak, pendapatan petani meningkat, dan pada akhirnya berkontribusi terhadap devisa negara.

“Penguatan SDM petani sawit swadaya adalah kunci. Jika pelatihan dan pendidikan dilakukan secara berkala dan terstruktur, maka program PSR bukan hanya sekadar peremajaan tanaman, tetapi benar-benar menjadi investasi jangka panjang bagi perekonomian nasional,” tegasnya.

Di tengah kompleksitas tata kelola industri sawit yang masih menghadapi berbagai tantangan, pembenahan dari hulu terutama pada kualitas bibit dan kapasitas petani dinilai menjadi langkah strategis untuk memastikan masa depan sawit Indonesia tetap kompetitif dan berkelanjutan.***

BACA BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS