Ilustrasi peremajaan sawit. Foto: bgnnews.co.id
Jakarta, myelaeis.com – Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, menekankan bahwa percepatan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) atau replanting bisa berjalan efektif, asalkan pemerintah menyediakan dukungan biaya hidup bagi petani selama masa menunggu tanaman baru berproduksi
Dalam pertemuan dengan Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Eddy menyampaikan salah satu kendala utama replanting sawit adalah keengganan petani menebang pohon sawit tua yang masih menghasilkan tandan buah segar (TBS).
Banyak petani khawatir kehilangan pendapatan selama masa tunggu 2,5 tahun hingga tanaman baru mulai berproduksi.
“Nah, saya tadi sampaikan ke beliau juga, bahwa ini masalah sebenarnya bukan hanya masalah perizinan, masalahnya justru di sini kadang-kadang si petani itu enggan. Contohnya sekarang, dengan harga TBS Rp3.000 per kg, mereka tidak mau menebang tanamannya,” kata Eddy dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (11/3).
Kekhawatiran tersebut, kata Eddy, kerap disampaikan langsung oleh petani: “Sehingga mereka sampaikan, 'saya mau makan apa kalau saya tebang tanaman saya?'”
Eddy menekankan pentingnya solusi agar petani tetap memiliki penghasilan sementara. Ia mengusulkan adanya jaminan biaya hidup atau dukungan lain, seperti pola tanam tumpang sari, sembari menunggu sawit baru mulai menghasilkan.
“Nah, ini yang harus dicarikan jalan keluar. Jalan keluarnya bagaimana? Selama menunggu… sekarang kan sawit sudah cukup sangat cepat ya, 2,5 tahun sudah menghasilkan. Jadi sebaiknya itu dipikirkan ada jaminan hidup, selain memang ada tanaman tumpang sari misalnya,” ujarnya.
Usulan ini, lanjut Eddy, telah disampaikan kepada Menteri Pertanian dan mendapat respons positif. Pembahasan lebih lanjut akan dilakukan untuk memastikan percepatan program PSR dapat berjalan dengan baik, sehingga produksi sawit nasional meningkat signifikan.
“Terus terang petani belum ada usulan. Tetapi saya melihat di sini, sudah pasti mereka nggak mau, pasti mereka ngomongnya begini bahwa 'saya makan apa?', kan gitu. Ya itulah yang harus kita pecahkan bersama,” pungkas Eddy.
Program replanting sawit yang tertunda selama ini dinilai memiliki potensi besar untuk meningkatkan produksi CPO nasional, mendukung ketahanan energi melalui biodiesel, dan memperkuat daya saing industri sawit Indonesia di pasar global.
Dengan dukungan biaya hidup sementara bagi petani, percepatan replanting sawit rakyat diharapkan bisa segera terealisasi.***






