https://myelaeis.com


Copyright © myelaeis.com
All Right Reserved.
By : Aditya

Berita > Bisnis

Pelaku UMKM Sawit Punya Peluang Besar "Naik Kelas"

Pelaku UMKM Sawit Punya Peluang Besar "Naik Kelas"

UMKM sawit. Foto: Ist

Jakarta, myelaeis.com – Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis kelapa sawit punya peluang besar untuk naik kelas. 

Tak cuma menjual tandan buah segar (TBS) sebagai bahan baku, UMKM kini bisa mengembangkan berbagai produk turunan sawit dengan nilai tambah yang jauh lebih tinggi.

Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eisha Maghfiruha Rachbini mengatakan, hilirisasi kelapa sawit membuka peluang bagi UMKM untuk menghasilkan produk bernilai tambah sekaligus menembus pasar ekspor.

“Potensi UMKM berbasis kelapa sawit sangat besar. Ke depan perlu ditingkatkan UMKM yang mampu memberikan nilai tambah dari produk atau komoditas kelapa sawit,” kata Eisha.

Menurut Eisha, produk turunan sawit yang dapat dikembangkan UMKM cukup beragam. 
Mulai dari produk pangan atau oleofood, bahan kimia atau oleochemical, hingga produk bioenergi.

Perkembangan hilirisasi sawit di Indonesia juga terus meluas. Saat ini, program hilirisasi kelapa sawit disebut telah menghasilkan lebih dari 193 jenis produk turunan.

Kondisi tersebut dinilai memberikan efek ekonomi berantai, termasuk terhadap harga TBS di tingkat petani, penciptaan lapangan kerja, hingga aktivitas ekonomi yang lebih luas.

Yang bikin menarik, hilirisasi tak hanya membuat produk sawit lebih beragam, tetapi juga mampu meningkatkan nilai ekonominya secara signifikan.

Secara umum, hilirisasi sawit dapat meningkatkan nilai ekonomi produk sekitar 3 hingga 10 kali lipat.

Bahkan untuk produk bernilai tinggi seperti vitamin E dan sejumlah produk oleokimia, peningkatan nilai tambahnya bisa mencapai lebih dari 30 kali lipat.

Artinya, peluang ekonomi sawit tidak berhenti ketika TBS dipanen dan dijual. Masih ada rantai nilai panjang yang bisa dimanfaatkan pelaku usaha untuk mengolah bahan baku menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

Eisha menilai kondisi tersebut seharusnya menjadi momentum bagi UMKM sawit untuk tidak hanya bertindak sebagai pemasok bahan mentah.

Pelaku UMKM didorong masuk lebih jauh ke rantai nilai produk hilir sehingga bisa memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar.
Selain meningkatkan nilai tambah, hilirisasi juga dinilai membuka pintu bagi UMKM sawit untuk masuk ke pasar internasional.

Namun, Eisha mengingatkan kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional saat ini masih relatif rendah, yakni sekitar 15%. Angka tersebut dinilai masih stagnan dan perlu ditingkatkan.

Sawit dianggap menjadi salah satu sektor yang berpotensi mendorong kenaikan kontribusi UMKM terhadap ekspor karena Indonesia merupakan salah satu negara dengan komoditas sawit unggulan.

Masuk ke pasar global juga bisa memaksa UMKM melakukan transformasi usaha. Sebab, produk yang akan diekspor harus memenuhi standar dan kualifikasi yang ditetapkan pasar internasional.

“Ketika UMKM masuk pasar global baik menjadi eksportir atau pemasok rantai nilai global maka akan berproduksi dengan standar dan kualifikasi pasar global. Hal itu akan mendorong UMKM untuk lebih efisien dalam produksi dan mendorong mereka naik kelas,” jelas Eisha.

Meski peluangnya besar, perjalanan UMKM sawit menuju pasar ekspor bukan tanpa hambatan. Keterbatasan modal, kapasitas produksi, hingga standar pasar global masih menjadi tantangan.

Karena itu, dukungan pemerintah dinilai tetap penting. Bentuknya bisa berupa penguatan kapasitas keuangan, insentif, bantuan teknis, hingga pendampingan untuk meningkatkan produktivitas dan menekan biaya produksi.

“ Tantangan menjadi eksportir cukup besar bagi UMKM. Terlebih, untuk menembus pasar global yang mana memiliki barrier cukup besar di tengah keterbatasan kapasitas finansial dan produksi dari UMKM,” ujar Eisha.

Pemerintah melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) selama ini juga mendorong pengembangan UMKM berbasis sawit yang berorientasi ekspor.

Ke depan, dukungan tersebut dinilai perlu diperkuat melalui pemetaan pasar potensial, pencarian calon pembeli atau potential buyer, serta fasilitasi business matching antara UMKM dan mitra usaha di luar negeri.

Perwakilan Indonesia di luar negeri, atase perdagangan, hingga Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) juga dinilai perlu lebih aktif membantu memetakan peluang pasar bagi produk UMKM sawit.

Dengan begitu, hilirisasi tak cuma bicara soal industri besar. Bagi UMKM, peluangnya juga terbuka lebar: dari sekadar menjual bahan baku, naik menjadi pengolah produk, pemasok rantai global, bahkan eksportir. Dan di titik inilah nilai tambah sawit bisa melonjak berkali-kali lipat

BACA BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS