Berita > Bisnis
Saham Sawit Menguat di Tengah Karhutla, Pengamat Sebut Harga CPO sebagai Faktor Penting
Pasar saham. Foto: cnbcindonesia.com
Jakarta, myelaeis.com - Saham sejumlah emiten berbasis kelapa sawit menguat di tengah maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan. Namun, penguatan tersebut ternyata tak bisa serta-merta dikaitkan dengan peristiwa kebakaran.
Pengamat pasar saham Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Venus Kusumawardana, S.E., M.M., mengatakan pergerakan saham perusahaan sawit dipengaruhi berbagai faktor. Mulai dari harga crude palm oil (CPO), sentimen pasar global, prospek industri, kebijakan pemerintah hingga ekspektasi investor terhadap kinerja emiten.
“Jangan langsung menyimpulkan bahwa naiknya saham ini gara-gara kebakaran. Naiknya saham itu banyak faktor,” ujar Venus, Sabtu (22/8).
Menurutnya, harga CPO global menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan ketika melihat pergerakan saham emiten sawit.
Sebagai komoditas yang diperdagangkan di pasar internasional, perubahan harga CPO dapat memengaruhi prospek pendapatan dan kinerja perusahaan perkebunan.
Gangguan terhadap rantai produksi dan pasokan juga berpotensi mendorong harga CPO. Kondisi tersebut bisa menjadi sentimen positif bagi perusahaan yang mempunyai kapasitas produksi kuat serta sumber pasokan yang tersebar di berbagai wilayah.
Meski begitu, Venus mengingatkan bahwa karhutla tidak otomatis menjadi kabar baik bagi perusahaan sawit.
Jika kebakaran justru merambah perkebunan milik emiten dan mengganggu aktivitas operasional, kondisi tersebut dapat memberikan dampak negatif terhadap perusahaan. Kerusakan aset maupun terganggunya produksi berpotensi meningkatkan risiko kerugian.
“Kalau kebakaran ini kemudian merambah ke lahan perusahaan, artinya perusahaan juga terdampak dan mengalami kerugian. Otomatis kalau perusahaan mengalami kerugian, dampaknya bisa negatif,” jelasnya.
Selain harga CPO, kebijakan pemerintah di sektor energi juga menjadi salah satu faktor yang berpotensi mendorong sentimen positif terhadap saham sawit.
Venus menilai percepatan implementasi bauran biodiesel B50 menjadi salah satu kebijakan yang perlu diperhatikan investor. Program tersebut berpotensi meningkatkan penyerapan CPO di pasar domestik.
Meningkatnya kebutuhan CPO untuk bahan baku biodiesel kemudian dapat memunculkan ekspektasi terhadap prospek industri sawit.
Harapan terhadap kenaikan permintaan inilah yang dapat menjadi salah satu pertimbangan investor ketika mengambil posisi pada saham emiten perkebunan.
“Di mana ada harapan dan sesuatu yang menguntungkan, biasanya investor akan berlomba-lomba masuk. Tetapi harus dilihat juga, kenaikannya ini untuk jangka pendek, menengah, atau panjang,” kata Venus.
Dengan demikian, penguatan saham sawit di tengah karhutla lebih tepat dilihat sebagai hasil dari kombinasi berbagai sentimen, bukan akibat langsung dari kebakaran.
Sebaran Aset Ikut Jadi Pertimbangan
Investor juga perlu melihat lokasi dan sebaran aset perusahaan sebelum mengambil kesimpulan mengenai dampak karhutla terhadap suatu emiten.
Perusahaan yang memiliki perkebunan tersebar di berbagai wilayah dinilai mempunyai kemampuan lebih besar untuk mengompensasi gangguan produksi di satu lokasi melalui hasil panen dari wilayah lainnya.
Sebaliknya, emiten dengan konsentrasi aset yang tinggi di wilayah terdampak karhutla berpotensi menghadapi risiko lebih besar apabila kebakaran mengganggu kegiatan perkebunan.
Karena itu, menurut Venus, investor tidak cukup hanya melihat grafik kenaikan atau penurunan harga saham. Kondisi fundamental perusahaan, lokasi aset, kemampuan produksi, hingga risiko operasional juga perlu diperhitungkan.
Saham AALI dan LSIP Menguat
Venus mencontohkan pergerakan saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI). Saham tersebut berada di kisaran Rp5.875 pada akhir Juni 2026 dan kemudian meningkat menjadi sekitar Rp7.338.
Sementara itu, saham PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) juga mencatat penguatan setelah sebelumnya bergerak fluktuatif.
Pergerakan kedua saham tersebut menunjukkan bahwa penguatan emiten sawit tidak tepat dibaca sebagai respons terhadap satu peristiwa saja.
Selain faktor fundamental perusahaan, investor juga mempertimbangkan kondisi pasar global dan prospek industri sawit ke depan.
Venus mengatakan karakter investor juga memengaruhi pergerakan harga saham. Trader biasanya lebih fokus memanfaatkan momentum dan sentimen jangka pendek untuk memperoleh keuntungan.
Sementara investor dengan orientasi jangka menengah dan panjang cenderung memperhatikan fundamental perusahaan, tata kelola, kinerja keuangan, serta prospek bisnis.
Karena itu, masyarakat yang memiliki saham perusahaan sawit diminta tidak langsung panik hanya karena adanya karhutla maupun kenaikan harga saham.
“Jangan panik, tetapi tetap diwaspadai apakah dampak tersebut berhubungan langsung dengan perusahaan atau saham yang dimiliki masyarakat,” ujarnya.
Pada akhirnya, penguatan saham sawit di tengah karhutla tidak bisa dilepaskan dari interaksi berbagai faktor. Harga CPO, prospek B50, kondisi fundamental emiten, sebaran perkebunan, sentimen pasar global dan ekspektasi investor menjadi sejumlah pemicu yang perlu dicermati.
Artinya, karhutla bukan satu-satunya jawaban di balik penguatan saham sawit. Investor tetap perlu melihat kondisi perusahaan secara menyeluruh sebelum mengambil keputusan investasi.***






