Sungai Kapuas. Foto: cnbcindonesia.com
Sintang, myelaeis.com - Kondisi kemarau yang berkepanjangan mulai menimbulkan kekhawatiran di kalangan petani kelapa sawit. Seperti yang terjadi di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat (Kalbar). Bahkan jika dalam sepekan ke depan hujan tidak kunjung turun, tandan buah segar (TBS) milik petani diprediksi tidak ada pembeli.
Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspek-Pir) Kabupaten Sintang, Sujono menjelaskan sampai saat ini sudah dua pekan angkutan sawit petani di pintu masuk PKS. Bahkan antrian sampai memakan waktu dua hari.
"Sungai Kapuas mengering, jadi PKS tidak dapat menjual CPO-nya. Akhirnya pabrik menerapkan batas kuota pembelian," terangnya kepada elaeis.co, Sabtu (5/9).
Lanjut Sujono, selama ini sungai Kapuas menjadi jalur pendistribusian CPO dari PKS. Bukan hanya di Sintang, kondisi ini juga terjadi di di Sekadau dan Sanggau.
"Saat ini petani sudah memperpanjang masa panennya.alah ada juga yang sudah tidak melakukan pemanenan," tuturnya
Menurutnya, penurunan serapan TBS oleh sejumlah pabrik membuat petani harus mencari alternatif pemasaran. Saat ini pihaknya tengah berkomunikasi dengan PTPN PalmCo agar dapat membantu menampung hasil panen petani di tengah situasi yang semakin sulit.
"Sekarang kami sedang berkomunikasi dengan pihak PTPN PalmCo. Mudah-mudahan mereka bersedia menampung buah petani kami," katanya.
Sujono sendiri merupakan Ketua KUD Mekar Jaya Raya di Desa Merarai Dua, Kecamatan Sei Tebelian, dengan areal kebun sekitar 450 hektar. Koperasinya itu adalah mitra PT Sinar Dinamika Kapuas.
"Selain kami ada sekitar 10 koperasi lainnya di Kecamatan Sei Tebelian yang mengalami persoalan yang sama terkait pemasaran TBS," tuturnya.
Sementara, di tengah kondisi tersebut, harga TBS di tingkat petani masih bervariasi. Di sejumlah RAM, harga berada di kisaran Rp2.200/kg. Sementara itu, beberapa pabrik kelapa sawit (PKS) masih membeli dengan harga sekitar Rp2.900 hingga Rp3.200/kg.***






