https://myelaeis.com


Copyright © myelaeis.com
All Right Reserved.
By : Aditya

Berita > Bisnis

BUMD Ini akan Bangun Sejumlah PKS, Mulyagusdin: Produksi CPO di Aceh Tinggi

BUMD Ini akan Bangun Sejumlah PKS, Mulyagusdin: Produksi CPO di Aceh Tinggi

Direktur Utama PT PEMA, Ali Mulyagusdin. Foto: PT PEMA

"Kita sedang membuat FS dan pemetaan rantai pasok."

PT Pembangunan Aceh (PEMA), salah satu badan usaha milik daerah (BUMD), PT Pembangunan Aceh (PEMA), berencana akan terjun ke industri pengolahan kelapa sawit di sejumlah daerah di Aceh.

Menurut Direktur Utama PT PEMA, Ali Mulyagusdin SE MBA Ak CA, proyek yang direncanakan bakal direncanakan adalah membangun sejumlah kilang pengolahan sawit atau pabrik kelapa sawit (PKS) di beberapa titik di Aceh.

"Kami bakal membangun kilang minyak kepala sawit atau palm oil refeniry di Aceh," kata Ali, kemarin, seperti dikutip dari laman ajnn.net, Senin (21/4).

Kata mantan Financial Manager PT Kana Green Energy, sebuah perusahaan energi terbarukan, ini bahwa pembangunan PKS tersebut dilakukan setelah melihat tingginya produksi minyak mentah sawit atau crude palm oil (CPO) di setiap daerah di Aceh.

“Soal pembangunan palm oil refeniry direncakan beberapa titik. Dan ini sedang kita kaji,” kata alumni Universitas Syiah Kuala ini.

Selain pembangunan PKS, ia mengatakan bahwa PT PEMA juga berencana akan melakukan bisnis jual-beli cangkang sawit. 

Ali menyebutkan, cangkang itu akan dikumpulkan di Pelabuhan Kuala Langsa.   “Kita sedang membuat FS dan pemetaan rantai pasok,” sebut Ali.  

Ali berharap perusahaan daerah dapat berperan aktif dalam beberapa komoditas yang dihasilkan.

Caranya, kata dia, adalah dengan memaksimalkan fasilitas infrastruktur pelabuhan di Aceh. 

Dengan demikian, ujar pria kelahiran Agustus 1982 ini, situasi tersebut dapat menumbuhkan sentra-sentra indrustri baru ke depan. 

“Dan pada intinya, kita tetap fokus pada pengentasan kemiskinan, pengurangan pengangguran, dan meningkatkan pendapatan asli Aceh,” ujarnya. 

Sebelumnya pihaknya sudah melakukan lifting perdana komoditas sulfur melalui Pelabuhan Kuala Langsa beberapa waktu yang lalu.

Awalnya, kata dia, pengoperasian perdana sulfur ini di Pelabuhan Blang Lancang, Lhokseumawe. 

Namun kemudian dipindahkan ke Pelabuhan Kuala Langsa dengan tujuan untuk menumbuhkan nilai transaksi bisnis tersebut.

“Pemindahan lokasi dilakukan untuk menumbuhkan transaksi dan menghidupkan kembali pelabuhan –  pelabuhan yang ada di Aceh,” kata dia.

“Kita semua berharap Langsa terus bergerak menjadi kota utama perdagangan dan jasa di wilayah timur Aceh,”  tegas peraih gelar Business Administration dari Universitaet Leipzig, Germany ini.
 

BACA BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS